Rabu, 12 November 2014

No Pain, No Gain: Pacitan “The Hidden Paradise”


No Pain, No Gain. Yap,pernah denger kalimat atau perumpamaan ini kan? Ada sesuatu yang harus dikorbankan demi sebuah pencapaian yang berharga. Mungkin ada benarnya dan ada hubungannya dengan pengalaman saya, lebih tepatnya kami (diriku, Temon dan Fatur) dalam misi kami berburu pantai di Kota Pacitan. Beberapa backpackers yang gw kenal mengatakan kalau Pacitan ini "the hidden paradise. Lalu apa “pain” nya? dan apa “gain” nya selama kami berpetualang di Hidden paradise ? Simak sedikit cerita backpackeran kami dari Semarang ke Pacitan berikut ini. hehehe

Part 1: Keberangkatan (Semarang – Jogja)
Jadi petualangan kami di Kota Pacitan dimulai dari rencanaku dan Temon buat mengisi waktu diantara libur sela-sela ujian tengah semester. Karena libur yang singkat,maka kami memutuskan untuk backpackeran ke tempat tujuan yang tidak terlalu jauh, diputuskan lah kami akan backpackeran ke Pacitan! Oia, jadi gw dan Temon ini beda kampus, gw kuliah di Semarang dan Temon kuliah di UGM Jogjakarta. Rencana kami akan start bareng dari Jogja menuju Pacitan. Ketika menjelang hari-H keberangkatan temen gw si Fatur memutuskan buat join, jadilah gw dan Fatur pada tanggal 30 Oktober kemarin, berangkat menuju Jogja bertemu dengan Temon dan selanjutnya akan start dari Jogja menuju Pacitan. SKIP SKIP

Sampe di Jogja, kami istirahat terlebih dahulu, dan setelah berdiskusi kami memutuskan untuk start kembali backpackeran dari Jogja ke Pacitan sehabis Isya atau sekitar pukul tengah delapan malam. Sebenernya atas saran dari beberapa teman sih katanya lebih baik jangan berangkat malam, karena daerahnya melewati hutan-hutan jati yang konon katanya masih sepi banget kalo malam.

Part 2: Jogja - Pacitan
Jadi akhirnya kami start juga dari Jogja pukul 19.30, dari Jogja menuju Gunung Kidul, lalu Wonosari, Wonogiri, dan terakhir Pacitan. Tapi emang gw akuin gokil banget ini rute nya. Wonosari – Wonogiri masih lewatin hutan jati beberapa kilometer yg minim penerangan bahkan dibeberapa titik ga ada penerangan sama sekali dan jalannya berkelak kelok.
Kalo kata temen gw selama perjalanan dari Jogja – Gunung Kidul – Wonosari – Wonogiri –Pacitan perbatasan kondisi alamnya dan sekitarnya itu seperti kita mengendarai mesin waktu yang makin lama makin mundur ke jaman dahulu. Hehehe
Lebih gila lagi ternyata selepas Wonogiri ke arah pacitan, jalannya lagi dalam perbaikan, dan you know what? Jalannya ditutup men!
Karena kita semua ga ada yang tau jalan alternatif selain jalan yg ditutup ini, akhirnya nekat aja lah kami nembus jalan yg lagi ditutup karena dalam perbaikan. Jadi jalannya mau dilebarin gitu, para pekerja dengan alat berat pada mengikis bukit-bukit kapur di kanan dan kiri jalan agar jalannya kalo udah jadi makin lebar. 

Setelah beberapa saat melewati jalan yg rusak parah (jalannya dari tanah) kami mentok di tanjakan terjal. Karena merasa motor kami ga bisa terbang,, jalan ga mungkin dilewati, kami tanya pada warga sekitar, akhirnya ditunjukkan lah kami lewat jalan desa, melewati kebun-kebun warga,untung aja ada jalan untuk kendaraan roda 2 yang jalannya dicor pake semen.
Keluar dari jalan rusak parah di dalam desa perbatasan Wonogiri-Pacitan, ternyata bagaikan keluar kandang buaya asia masuk ke kandang singa afrika. keluar area desa jalannya ga kalah rusaknya, jalannya masih dari batu-batu kerikil kecil belum di aspal! Hahaha combo banget dah perjuangnnya. Setelah ada setengah jam motor jalan bagaikan goyang disko melewati jalanan yang ga nyaman, akhirnya masuk perbatasan terluar kota Pacitan jalannya dah aspal bagus. Tapi emang sepi banget kalo malam hari, padahal waktu itu kayaknya belum ada pukul 10 malam. SKIP SKIP

Akhirnya kita sampai di tempat saudaranya si Temon di Desa Sidoharjo, kita rencana menginap disitu selama berada di Pacitan. Tempatnya ga jauh dari pusat kota, dan ga terlalu jauh juga dari kelompok pantai-pantai Pacitan sebelah barat(Klayar,Srau,Watukarung) dan kelompok pantai sebelah Timur(Soge,Pidakan,Anakan). Sampai Pacitan kira-kira jam setengah sebelas malam. Langsung istirahat sambil menyusun rencana berburu pantai keesokan harinya.

Part 3: Berburu Pantai Hari Pertama (Pantai Klayar, Srau dan Watu karung)
Hari pertama kami berangkat pukul 9 pagi, menuju ke Pantai Klayar yang pertama kita tuju.  Kalo dari Pacitan kota atau dari desa Sidoharjo, arahnya balik menuju perbatasan Pacitan, nanti kalau ada tikungan dengan plang Goa Tabuhan, ambil tikungan itu, tselanjutnya tinggal ngikutin jalan aja sampai ke Kecamatan Donorejo. Kalau kemarin pas gw ke pantai Klayar sih jalannya ya masih rusak-rusak gitu, belum diaspal. Tapi lagi ada pengaspalan kok waktu itu, semoga sekarang dah bagus jalannya. Kayaknya emang pemkab Pacitan mulai menyadari bahwa pantai-pantainya ini bisa jadi anadalan wisata baru di Kabupaten tempat kelahiran Presiden ke-6 kita, Susilo Bambang Yudhoyono. Makanya akses jalannya lagi digarap habis-habisan, lagi banyak pelebaran jalan dan pengaspalan menuju pantai-pantainya. Sayang,kami waktu kesana belum menikmati kemudahan aksesnya. Tapi ga masalah, no pain,no gain men! Hehehe

Pertama kali liat pantai Klayar dari kejauhan….. speechless.. kece abis! Dari jauh aja keren banget men! Masuk pantai Klayar per orang dipungut retribusi sebesar Rp 3000 kalo ga salah, dan kendaraan Rp 2000. Pantai Klayar ini jagoan banget lah.. Pantainya ga terlalu ramai, pasirnya putih, ombaknya besar, struktur pantainya juga keren di pinggir pantai ada bukit-bukit batu karang membentuk arsitektur alami yang indah. Oia di pantai Klayar ini ada satu fenomena alam yang unik, jadi di atas bukit karangnya ada semburan air laut yang muncul dari celah-celah karang., menyembur ke udara lumayan tinggi tiap beberapa menitnya.





Kalo dari skala 1 sampai 5 pantai klayar menurut gw:
Akses  jalan   : 4/5 (mudah menemukan pantai Kalayar,tapi dibeberapa titik jalan masih belum di aspal dan dalam perbaikan)
Sepi                 : 3/5 (lumayan sepi, tapi kayaknya kalo weekend bakal ramai -_- )
Ombak             : 3/5
Pasir                 : 4/5 (pasir putih lumayan bersih)
Pemandangan  : 4/5

Setelah puas menikmati pantai Klayar,kami istirahat sebentar lalu kami berniat menuju pantai Srau. Karena masih disatu kecamatan yang sama, kami pikir paling Cuma sebentar menuju Srau, ternyata lumayan juga jaraknya, kayaknya dari Klayar ada sekitar satu jam lebih lah menuju pantai Srau. Yang bikin lama mungkin karena jalannya naik turun dan berkelak kelok ekstrim dan jalannya sempit men! Ga berani gw bawa mobil menuju pantai Srau, tips dari gw sih mendingan bawa motor matic aja. Menemukan pantai Srau mudah kok kalo dari pantai Klayar kita tinggal ngikutin plang penunjuk jalan, kalo masih bingung tanya warga sekitar juga semua pada paham. hehehe
Masuk pantai Srau kalo ga salah ditarik retribusi Rp 3000 per orang dan Rp 1000 per kendaraan. Nah masuk area pantai Srau kita bakal disambut perkebunan kelapa yang bikin jalanan sejuk. Tapi disinilah titik balik perjalanan gw selama di Pacitan, ketika hendak ngambil foto tiba-tiba gw mau meminggirkan motor ke pinggir jalan ke arah kiri, ternyata ban motor selip nginjek rerumputan pinggir jalan,motor hampir jatuh ke arah kiri, gw dengan sigap banting setir ke kanan doong… tapi, malah jadinya gw dan Fatur yg gw boncengin roboh ke arah kanan yaitu ke arah Aspal. -_-


Hasilnya kaki kami lecet-lecet lumayan parah. Hehehe kuku jempol kaki Fatur sampe berdarah dan copot dari jempolnya.. arrrrrgghhh… ngeriiii. Gw ga kalah lecet-lecetnya,jempol kaki gw lecet lumayan tebel kebuka kulitnya dan terbukalah daging segar sekitar 2 cm, dan lutut lecet-lecet juga. Hehehe Perih sih emang perih, tapi No Pain,No Gain men!!! Perjalanan tetep lanjut dong! Tapi dari yang asalnya kami bertiga semangat banget mau berenang di Pantai Srau, semangat untuk berenang down seketika. Hehehe

Sesampainya di Pantai Srau.. Wooow!!! Lagi-lagi keren banget men! Yang pertama paling berbeda yaitu pasirnya yang putih bersih! Putih banget men..ombaknya juga besar banget. Karena merasa udah kepalang tanggung sampai Pacitan ga berenang rasanya sia-sia banget. Akhirnya dengan berpincang-pincang gw lari menuju ombak pantai Srau, setelah kaki keguyur ombak yang besar..
Byuurr…. 1,2,3,… Holly bloody shiiit! Perih banget men bagian kaki yang lecet-lecet kesiram ombak yang notabene air asin. Hahaha keidiotan gw yg jadi kelinci percobaan ga berlaku untuk Fatur. Melihat gw yg meringis nahan perih,doi mengurungkan niatnya berenang di pantai. Temon yang masih sehat tanpa luka pun ga jadi berenang. Mungkin ga enak sama kami berdua kali yaaa. Hehe

Di pantai Srau pemandangannya sih standar aja, tapi ada yang iconic disini yaitu ada batuan/bukit karang yang ada celahnya dan kalo ombak datang, ombaknya bakal melewati celah karang tersebut. Makanya disebut “Karang bolong”. Lalu ada gugusan bukit kecil di tengah laut yang menyerupai Jamur. Itulah keunikan yang ada di pantai Srau. Tapi sekali lagi sumpah ombaknya besar men! Sayang banget kalo melewatkan berenang disini. Dan pasir putihnya juara banget!!








Kalo dari skala 1 sampai 5 pantai Srau menurut gw:
Akses  jalan     : 3/5 (lumayan jaraknya dari pantai Kalayar,jalannya ekstrim naik turun jalan sempit dan dibeberapa titik jalan masih belum di aspal dan dalam perbaikan)
Sepi                 : 2/5 (gw bilang pantai ini sepi )
Ombak            : 4/5
Pasir                : 5/5 (pasir putih bersih)
Pemandangan  : 2/5 (dipinggir pantai tempat istirahat yg ada saungnya kurang bersih,ada sampah-sampah plastik walaupun sebenrnya dah disediakan tempat sampah)

Setelah puas menikmati Pantai Srau kami menuju pantai selanjutnya yaitu pantai Watu Karung. Pantai ini dekat lokasinya dari pantai Srau, paling hanya 20 menit dari pantai Srau. Sebenernya ada tempat masuk resminya yg melewati gerbang petugas, tapi kami ambil jalan pintas melewati rumah warga jadi kami terbebas ditarik retribusi :p
Pantai Watu Karung ini pasirnya ga kalah putih bersih dari pantai Srau, tapi menurut gw pantai Watu Karung ini paling juara! 
Ada bukitnya disisi pantai yang bisa kita naiki untuk melihat pemandangan pantai dari ketinggian. Lautnya berbatu di pinggiran, sedikit ke tengah ada gugusan-gugusan bukit karang, sedikit ke tengah lagi menjauhi pantai,ombaknya luarbiasa men! 

Cocok lah buat surfing. Dan enaknya pantai ini sepi banget, waktu gw kesana Cuma ada kami bertiga dan beberapa bule yang lagi surfing, selain itu ga ada siapa-siapa lagi di pantai indah dan luas ini! Mantaaaap 
Karena dah terlanjur nyaman istirahat di bukit di pantai Watu Karung, maka kami memutuskan untuk menunggu sunset di pantai Watu Karung aja, dan ternyata itu keputusan paling bener! Sunset disini apalagi dari atas bukit bener-bener salah satu sunset terindah yang pernah gw lihat.














Kalo dari skala 1 sampai 5 pantai Watu Karung menurut gw:
Akses  jalan      : 4/5 (dekat jaraknya dari pantai Srau,jalannya naik turun dan berlubang tapi dah lumayan bagus)
Sepi                  : 4/5 (gw bilang pantai ini sepi banget, waktu gw kesana Cuma ada beberapa bule yang lagi surfing, selain itu… Cuma kita bertiga )
Ombak              : 4/5 (ombaknya mantep, buktinya pada surfing di pantai ini)
Pasir                  : 4/5 (pasir putih lumayan bersih)
Pemandangan    : 5/5 (pantainya keren banget, ada gugusan bukit-bukit karang ga jauh dari pantai. Ada juga bukit dipinggir pantai yg sepi banget tempat yang paling tentram untuk menikmati sunset)

Part 4: Berburu pantai hari ke-2 (Soge,Pidakan,Anakan dan Teleng Ria)
Bangun pagi di hari kedua di Pacitan, dibuka dengan kaki yang masih perih merasakan lecet-lecet luka yang masih baru. Karena takut tambah perih kena air, maka kami memutuskan untuk skip aja mandi pagi hari itu. hahaha setelah sarapan, kami berniat berburu pantai di Pacitan sebelah timur. Destinasi pertama yang kami tuju adalah pantai Soge di kecamatan Ngadirojo. Kalau dari desa Sidoharjo(tempat kami menginap) cukup menuju arah Pacitan Kota, ikutin jalan utama aja sampai ada plang penunjuk jalan ke arah Ngadirojo, lalu ikut arah Ngadirojo terus sampai melewati JLS (Jalur Lingkar Selatan). Menuju pantai Soge lumayan dekat, paling Cuma 1-2 jam kalo jalannya santai. Jalur menuju pantai Soge udah bagus, tapi memang terlebih dahulu harus melewati daerah dataran tinngi (kayaknya emang jalannya muterin pegunungan).

Pantai Soge bisa dibilang jadi landmark nya Pacitan yang baru setelah pantai Klayar, karena kebetulan pantainya bener-bener di pinggir Jalur Lingkar Selatan Pacitan, apalagi jalannya udah bagus jadi cukup banyak menyedot animo masyarakat untuk berwisata ke pantai Soge. Menjelang sampai pantai Soge, kita disambut dengan Jembatan di pantai Soge yang lumayan bagus arsitekturnya, dari jembatan ini bisa kita lihat. Pantai Soge dengan deburan ombaknya yang mempesona dan dari salah satu sisinya bisa juga kita lihat muara sungai yang tentram dan hijau yang alirannya bermuara di Pantai Soge.
ini nih yang bikin demen, masuk pantai Soge gratis coy! Tinggal turun dikit dari jalan raya dan parkirin aja kendaraan bermotor pinggir pantai. Hehe Disini pantainya ga terlalu ramai, walaupun itu weekend. Garis pantainya panjang banget. Pasirnya putih dan ombaknya juga lumayan besar. Liat pemandangan yang begitu menakjubkan ini, gw khilaf renang aja di pantai. Bodo amat masih luka kena air laut, perih perih mantap!hehehe

Yang khas dari pantai ini mungkin garis pantainya yang panjang dengan pasir putihnya, dan juga ada semacam laguna tempat bermuaranya aliran sungai bertemu air asin dari laut yang membuat airnya payau. Cocok lah buat berenang disitu, disisi depan bisa berendam sambil melihat pantai, dibelakangnya bisa liat jembatan pantai Soge yang megah. Very recommanded.





Kalo dari skala 1 sampai 5 pantai Soge menurut gw:
Akses  jalan     : 5/5 (jalannya mulus aspalnya bagus, pantainya tepat di pinggir jalan raya)
Sepi                 : 2/5 (pantainya ngga begitu ramai tapi ya ngga sepi juga )
Ombak          : 4/5 (ombaknya mantep, lumayan besar sampe papan peringatan dilarang berenangnya aja ada gambar Nyi Roro Kidulnya -_- kurang ngeri apa coba?!)
Pasir                : 3/5 (pasir putih rada kecoklatan tapi lumayan bersih)
Pemandangan  : 3/5

Berenang sampai puas,sampai item,sampai kepanasan kami akhirnya menyudahkan berada di pantai Soge ini, selanjutnya kami dalam kondisi masih basah-basahan menyusuri Jalur Lingkar Selatan dan tiap ada pantai kami berhenti sejenak menikmatinya lalu lanjut jalan lagi. Menjelang sore kami hendak balik langsung menuju jogja, tapi melewati Pacitan Kota ada pantai Teleng Ria yang membuat kami penasaran. Masuk pantai Teleng Ria dipungut retribusi Rp 5000 per orang dan Rp 2000 untuk sepeda motor.
Pantai ini kayaknya pantai paling populer untuk warga Pacitan, karena ramainya bukan main. Tapi lumayan juga sih di pinggir pantai ditanami pohon-pohon yang rindang tempat berteduh dan tempat orang-orang yang mau piknik.

Kalo dari skala 1 sampai 5 pantai Teleng Ria menurut gw:
Akses  jalan     : 5/5 (dekat jaraknya dari Pacitan Kota)
Sepi                 : 1/5 (gw bilang pantai ini ramai banget)
Ombak           : 2/5 (ombaknya kecil, cocok lah buat piknik bersama keluarga apalagi yang bawa anak kecil)
Pasir                : 2/5 (pasir putih kecokelatan, rada kotor juga karena emang banyak pengunjung)
Pemandangan  : 2/5

Setelah puas berenang lagi di pantai Teleng Ria, kami mandi dan berburu makanan di sekitar kios-kios yang berada di kawasan pantai Teleng Ria, beli-beli makanan laut buat lauk makan malam di Jogja nanti ketika udah sampai. Lumayan juga Rp 50 ribu dapet udang dan cumi goreng tepung setengah kilo, dapet setengah kilo juga ikan hiu goreng,tuna goreng dll. Sumpah cumi goreng disini enak banget! Besar-besar dan renyah banget. Harus nyobain!
Pukul setengah lima sore kami start dari Pacitan untuk kembali menuju Jogja, masih melewati jalanan rusak yang kemarin kita lewati saat berangkat.hehehe dan akhirnya sampai lagi dengan selamat di Jogja 3 jam kemudian. Pengalaman berburu pantai di Pacitan emang luar biasa! Suatu saat pengin balik lagi karena waktu itu renang nya ga puas karena kaki lagi luka-luka. Pengin juga nyobain pantai-pantai yang belum kita singgahi, karena konon ada 17 pantai di sekitar Pacitan. Semoga suatu saat bisa kembali lagi ke Pacitan.




Tips:
Kalo mau berburu pantai di arah barat (klayar,srau,watu karung,ngiroboyo) lebih enak pakai motor matic.
Ga dianjurkan pake mobil kecuali udah sangat terampil.
Ga dianjurkan cewe yang nyetir (baik motor maupun mobil).

Special Thanks to:
Keluarga Budhe nya Temon di Pacitan yang menyediakan akomodasi tempat tinggal dan makan selama di Pacitan.



Selasa, 16 September 2014

Perjuangan Keras Demi Puncak Sumbing





Part 1: 21 Juni 2014
Hari itu hari Sabtu kelabu, masih inget banget gw hari itu ujian lisan praktikum pengauditan gagal total, akhirnya cuma bisa jawab seadanya sambil cengar-cengir didepan asisten dosen yg lagi nguji gw. Salah satu sebabnya ya gara-gara gw sambil mikirin trip hari itu juga yg rencananya mau mendaki Gunung Sumbing bareng rekan-rekan gw dari UGM dan UNY Jogjakarta. Pusing bener deh mana akhir bulan duit waktu itu ga sampe 50 ribu di dompet. Gimana caranya bisa sewa-sewa peralatan naik gunung? Hahaha
Akhirnya kelar ujian gw mabur kesana kemari pinjem perlengkapan ke temen, karena menyewa bukan pilihan yang rasional lagi.Haha Singkat cerita setelah sepik-sepik tingkat dewa dg nyuap dikit rokok sebungkus, dapetlah sleeping bag,matras,kompor dll. Hahaha dapet perlengkapan gw membelanjakan duit yg tinggal beberapa puluh ribu buat beli bahan makanan dan bekal selama mendaki, jadilah nol rupiah sekarang di dompet gw. Akhirnya ya mau ga mau gw pinjem duit ke Rasis Ahmad temen gw savior gw juru selamat gw paling top seantero jagad raya sebesar 50ribu aja.hahaha :p
 Duuh ga enak bgt gw sebenernya pinjem duit ke Rasis, soalnya malem harinya gw juga udah sukses bikin dia begadang ampe pagi buat ngajarin gw materi praktikum, eh siangnya gw ngrecokin dia lagi. Hahaha
Dengan modal 50ribu Pokoknya gimana caranya gw kudu bisa berangkat dari Semarang menuju Temanggung (pos Sumbing) dan balik lagi ke Semarang dengan duit 50ribu! Hahaha

Part 2: Keberangkatan
Jadi, Gunung Sumbing adalah gunung api yang terdapat di Jawa Tengah, tingginya 3.371 meter dari permukaan laut, gunung ini terletak di tiga kabupaten Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Magelang, Temanggung, dan Wonosobo.
Gw rencana mendaki Gunung Sumbing bareng 3 temen gw. Dimas, Icho dan Fafa.

(atas: ane, kiri ke kanan: icho, fafa, dimas)

Ketiga temen gw berangkat dari jogja, dan gw berangkat dari Semarang. Kita berencana ketemuan di Resto Kledung Pass deket pos pendakian sumbing. Setelah siap dengan semuanya, gw berangkat dari Semarang sore hari pukul 17.00 menuju Kledung. Dan sialnya nih di jalan sekitar abis mahrib gw kehujanan, mana deres banget hujannya, apalagi itu di daerah Sumowono, yg pernah lewat daerah sumowono arah semarang ke temanggung pasti tau lah yaa kalo malem disitu gimana, daerah hutan,dingin,kabut,jarang ada lampu. Gw akhirnya menepi dulu di sebuah sekolah SD buat nunggu hujan reda. Setelah hujan reda gw lanjutkan kembali perjalanan menuju meeting point. Sepanjang jalan ternyata beberapa kali kembali hujan dan gw menepi lagi, terus lanjut lagi ketika reda. Dan begitu seterusnya sampe beberapa kali. Walhasil pakaian gw rada-rada gembel gimana gitu kecipratan air kubangan sepanjang jalan.
Nunggu beberapa lama di meeting point, akhirnya ketiga sobat gw dateng. Ternyata mereka ga kalah gembelnya dari gw,hahaha lebih aneh lagi malah,mereka Cuma pake mantel plastik dari dari bahan semacam tas kresek yg biasa dipake tukang becak.hahaha


Jadi pada dasarnya badan kami udah basah semua tuh kena hujan,padahal nanjak gunung aja belum.. Akhirnya tau gak apa yg kita beli pertama kali ketika mampir minimarket?? makanan? bukaaan..
minum? bukaaaan... tau ga?
(sebenernya sempak yg kami beli bukan merk GTman sih, tapi merk alfamart!, berhubung ga nemu gambarnya, yaudah sempak GTman aja yaak,biar keren ada logo Superbrand nya.wkakaka)
kita beli sempak.. karena sempak kami basah semua(termasuk sempak cadangan). hahahaha


Oke, setelah diskusi kami memutuskan untuk mulai mendaki besok pagi aja, karena kondisi kami yg abis kehujanan rada-rada males langsung hiking ke puncak dan kayanya jalanan licin bgt kalo abis ujan.
Akhirnya kami memilih untuk istirahat semalem di basecamp Gunung Sumbing.


(Credit to: http://gadisrantau.files.wordpress.com/ untuk foto basecamp Sumbing ini)


Part 3: 22 Juni 2014. Hari Pertama naik gunung sumbing
Oke abis sholat subuh kita langsung mulai hiking naik gunung, pertamanya bingung nih mau lewat jalan baru atau jalur lama.
Dimas    : “gimana mbel (gembel : nama alam ane gaaan..haha) siap naik sekarang?hahaha”
Gw         : “ayok lah dim, ini gunung ga setinggi gunung Selamet kan? sore paling udah puncak yaa..”
Gw dan dimas memperkirakan sampe puncak kira-kira sore hari,soalnya berkaca pengalaman kita berdua pernah naik gunung Selamet berangkat jam 9 pagi sampe puncak ga sampe 9 jam.
RULE NO.1 : Jangan Sombong di Gunung!
Oia, jadi kalo kita naik gunung sumbing,abis mendaftar di basecamp kita dikasih peta jalur pendakian. 

Ada dua jalur pendakian ke puncak Sumbing jalur lama dan jalur baru. Saran gw sih lewat jalur yg lama,soalnya kondisi medannya tidak terlalu gersang, masih ada hutannya. Kalau jalur pendakian yg baru dari awal lewat ladang-ladang,terus ada savana-savana, tapi panasnya(plus berdebu) minta ampun kalo jalan siang hari. Kebetulan waktu itu kami random aja milih lewat yg jalur baru. Tapi di jalur baru di pos 1 ada sumber mata air.
kira-kira beginilah kondisi sepanjang jalur baru

inget Rule No.1??
Kejadian nih ama gw dan temen-temen, kami jalan seolah tenaga udah minim banget.. Jangan pernah ngeremehin Gunung.
Ternyata tengah hari kita baru sampe Pos Pestan. Pos Pestan ini kayaknya baru separuh perjalanan. Pestan ini tempat bertemunya jalur lama dan jalur baru. Tempatnya berupa camp ground yg luas, tapi ga ada satu pun pohon disini,tanahnya berpasir. Jadi kalau siang hari ya rada-rada ga nyaman untuk istirahat lama di Pestan.
ini kondisi di Pestan

Tenang aja, diatas Pestan (antara Pestan – Watu Kotak) jalan dikit aja ada padang savana yg luas banget, ada beberapa pepohonan juga disana, istirahat disana asoy banget dah... Oia, buat foto2 juga cocok bgt dah.. Lumayan tuh foto2 di padang savana pose-pose ala pujangga gitu..  hahaha



Istirahat rada lama, kita terusin lagi perjalanan menuju watu kotak, buseeet padahal tuh watu kotak kayanya ga jauh dari pestan, tapi berasa lambat banget dan berat banget langkah kami.
Watu kotak ini berupa daerah dengan bongkahan-bongkahan batu raksasa yg besar-besar banget. Eh kebetulan kami nemu Goa disitu, jadilah kami istirahat disana sambil mulai masak bahan makanan yg kami bawa. (re: Indomie) hahaha


Setelah istirahat, kami lanjutkan lagi perjalanan dari pos watu kotak menuju pos terakhir sebelum puncak yaitu pos Tanah Putih. Ternyata estimasi kami gagal total, sampe di tanah putih ternyata udah jam 17.00. mau ngelanjutin ke puncak, paling sampe puncak udah malem, dapet pemandangan kagak, masuk angin iya ntar kalo nekat. Hahaha
Akhirnya kami memutuskan bikin tenda aja di tanah putih dan memutuskan untuk berburu puncak+sunrise esok paginya. Selesai bikin tenda, kami naik dikit nyari spot lagi buat berburu sunset.
Sunset di gunung sumbing paling juara pokoknya! Jadi, kalo liat sunset dari sekitar puncak gunung sumbing, matahari tenggelamnya itu persis di samping gunung sindoro. Mantap lah pokoknya!

 main-main ke atas tanah putih nyari spot buat liat sunset

 masih belum sunset, tapi menjelang sunset lah...


 dapet golden sunset nya bro... hahaha

akhirnya sunset dari gunung sumbing dengan panorama gunung sindoro..



Setelah gelap, kami turun kembali menuju tenda. Niatnya sih mau bikin api unggun. Tapi muncul lah obrolan aneh diantara kami.
“bro, gw masuk tenda yaa.. mau nyobain sleeping dulu nih”
Satu nyobain,yg lain nyobain..alhasil? tepar semua kita petang itu juga! Hahahaha


Part 4: 23 Juni 2014. Summit Attack!!!
Untung kami pasang alarm jam 3 pagi. Setelah bangun kami siap-siap buat melanjutkan summit attack!
Tenda kami tinggal aja, bawa air minum,kamera sama senter doang, kami memulai kembali pendakian menuju puncak dinihari itu. Fafa, Dimas dan Icho sih pengin buru-buru sampe puncak, kalo gw sih jalan sendirian nyante aja dibelakang sambil menikmati dinihari menjelang puncak. Padahal gw lg nge les aja, hahaha capek jg ternyata jalan sambil masih ngantuk. 
setelah berjalan sehari lebih penuh perjuangan.....






Akhirnyaaaa kami sampai juga di puncaaak!!!
sampai di puncak Gunung Sumbing pada pukul 5 pagi. Masih rada gelap sih, jadi lumayan lama nungguin sunrise. Dinginnya juga juara nih di puncak sumbing. Sekitar pukul tengah 6 pagi akhirnya momen yg kami tunggu-tunggu muncul juga!!
Sunrise broooo!!!!






Thanks for 50K Rasis Ahmad.
(kalo ga minjemin duit, gw  ga bakal sampe di tempat ini)


 Oia, jadi di gunung Sumbing itu ada kawahnya bro.. kayaknya sih masih aktif/semi aktif.

Puas foto-foto dan menikmati pagi di puncak sumbing yg penuh perjuangan, pukul 8 pagi kami turun dari puncak balik lagi ke tenda di tanah putih.
Sampe di tanah putih kami masak-masak dan beresin tenda sesudah itu. Ada lagi kejadian super konyol yg bikin ending perjalanan kami jadi makin tak terduga. Ceritanya diawali dengan obrolan konyol seperti ini:
Dimas : “bro, air minum masih banyak berapa botol nih, abisin aja buat masak gimana?”
Gw    : “boleh lah Dim, lagian di Pestan kan ada sumber air katanya”
Icho-Fafa : “ yoi, coi abisin buat masak aja, sisain aja setengah botol buat sampe Pestan kayaknya cukup banget, ntar di Pestan kita isi air lagi"
Akhirnya kami berempat Cuma sisain setengah botol buat sampe Pestan. Sampe Pestan ternyata:

Dimas : (tanya ke pendaki lain yg bawa botol air abis ambil air di sumber air) “mas, sumber airnya dimana ya? Jauh ga kira-kira dari sini?”
Pendaki : “wah lumayan jauh mas, kira-kira mas nya nurunin lembah ada 30 menitan.”



Denger yg barusan muka kami langsung kecut.. buseet dah turun aja 30 menit, belum baliknya lagi.. mana gunung sumbing kalo siang panasnya ga kira-kira. Hahaha
Akhirnya kami sepakat untuk nekat aja ga usah ambil air lagi, dan turun dengan air setengah botol kurang yg tersisa. Kami ga berani lagi lewat jalur baru, kali ini waktu turun kami lewat jalur lama aja.
Kayaknya setengah perjalanan air kami udah abis coy! Jalan sampe basecamp masih lama banget, panasnya luarbiasa, tenggorokan udah kering banget. Sumpah itu pertama kalinya gw ngerasa hampir frustasi dalam trip-trip gw.

Untung nih beberapa kilometer menjelang sampe basecamp ada ladang-ladang warga, kebetulan banget Dimas denger ada seperti suara air di ladang-ladang warga. Ternyata bener, ada pipa/paralon air sepanjang ladang.
Muncul lah ide gila dari kami, kami langsung buka itu sambungan pipa air..hahahaha air pun mengucur deras.. udah kayak surga banget waktu itu. kalo menurut Dimas sih, waktu kita liat paralon air katanya kayak liat es lilin.hahaha Seger banget rasanya. Setelah dapet air, rasa-rasanya nih kayak terlahir kembali dengan IPK cumlaude. Hahaha  langsung semangat lagi buat nerusin turun gunung sampe ke basecamp lagi.




bener-bener trip yg tak terlupakan.. susah payahnya dan segala kesulitannya memberikan banyak pelajaran dan pengalaman yg bisa gw dapatkan..


Special Thanks to: Dimas buat sebagian besar jepretannya, Icho yg minjemin gw duit buat balik semarang,Rasis A. yg minjemin duit gw buat berangkat ke gunung, dan Fafa yg bawa ransel gunung paling gede paling berat sejak awal manjat hingga balik. hahaha

Btw, sebelum cerita ini diterbitkan utang gw semua udah lunas loh yaa...hahahaha :D